Elwasi Terpasang di Sumedang, Keprihatinan Sudarsono atas Ratusan Korban Longsor di Banjarnegara

- 18 Januari 2021, 07:20 WIB
Relawan BPBD banjarnegara Sudarsono pembuat Elwasi  EWS longsor , berangkat dari ketidakmampuan daerah melindungi warga dari longsor
Relawan BPBD banjarnegara Sudarsono pembuat Elwasi EWS longsor , berangkat dari ketidakmampuan daerah melindungi warga dari longsor /evi yanti/

PORTAL PURWOKERTO - Basarnas Jawa Barat  menggandeng Badan BPBD Banjarnegara untuk pemasangan alat pendeteksi longsor atau Early Warning System (EWS), Elwasi. Elwasi dibuat Sudarsono (48) lulusan sekolah dasar dan  relawan, dibuat  ditengah keprihatinan  ketidakmampuan daerah untuk memenuhi alat pendeteksi gerakan tanah. Longsor telah memakan ratusan jiwa di Banjarnegara.

Elwasi alat pendeteksi gerakan tanah dibuat di tengah keprihatinannya bencana longsor di Banjarnegara. Di saat yang sama Pemda setempat tidak mampu membeli EWS yang harganya mencapai ratusan juta rupiah.

Di sisi lain sekitar 70 persen wilayah Kabupaten Banjarnegara rawan longsor dan gerakan tanah. Jumlah korban longsor sudah ratusan.

Peristiwa longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar pada  12 Desember 2014 menewaskan banyak orang.

Baca Juga: Longsor Susulan di Sumedang, Basarnas Pasang Early Warning System, Elwasi Banjarnegara

Sebanyak 15 orang selamat dalam kondisi luka-luka serta 108 orang tewas terkubur diantaranya 95 orang ditemukan dan 13 orang dinyatakan hilang.

 Longsor dengan jumlah korban tidak sedikit bukan hanya terjadi di Jemblung, Pada 2006 terjadi longsor di Dusun Gunung Raja, Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara.

Longsor dari lereng Gunung Pawinihan tersebut mengakibatkan  90 orang tewas dengan rincian 76 jenazah ditemukan dan 14 orang lainnya dinyatakan hilang. Sebagian besar korban tewas dimakamkan secara massal.

Baca Juga: Jadwal Trans 7 Hari Ini, 18 Januari 2021, Asik, Masih Ada Si Unyil dan Si Bolang!

Sangat membekas di benak Sudarsono  warga Desa  Kalimandi, Kecamatan Klampok kabupaten setempat.

Saat itu Sudarsono termasuk salah satu dari ratusan relawan tim BPBD, dia ingat saat evakuasi longsor di Jemblung, masih terjadi gerakan tanah dan longsor susulun.

"Situasi seperti itu sangat membahayakan petugas dan relawan yang sedang bekerja mengevakuasi para korban. Saat longsor susulan datang kami berlarian menjauh dari titik longsor. Kondisi tersebut berlangsung sampai beberapa  hari," jelasnya.

Saat hujan sebagian besar wilayah Banjarnegara rawan gerakan tanah dan longsor. Ada ribuan orang yang bermukim diatasnya, dan peristiwa longsor Dusun Jemblung bukan yang pertama.

Baca Juga: Prediksi Pertandingan Cagliari Vs AC Milan: Waktunya Kemenangan lagi untuk Rossoneri

Dari berbagai pengalaman ikut dalam kegiatan nge SAR (Search adn Rescue) relawan dibawah koordinasi BPBD Benjarnegara.

Dia mulai berpikir bahwa sebenarnya peristiwa gerakan tanah dan longsor bisa dipantau  melalui alat deteksi early warning system yang bisa dirakit dengan alat sederhana dan murah.

Sudarsono yang hanya lulus sekolah dasar namun punya ketrampilan elektronik, hasil belajar dari tetangga berusaha mencari tahu sistem kerja dan komponen di Banjarnegara  70 persen warga tinggal di lokasi  bancana hanya memiliki beberapa unit saja, karena mahal mencapai ratusan juta. ***

Editor: Eviyanti


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah